Rusia Tetap Gempur Ukraina Usai Lawatan Jokowi ke Kedua Negara, Misi Damai Gagal?

1
67
Tim penyelamat mengevakuasi tubuh korban dari bangunan yang hancur setelah terkena serangan rudal di kota Sergiyvka, dekat Odessa, Ukraina, di malam hari sejak 30 Juni hingga 1 Juli 2022. Serangan itu menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai 30 orang. (foto: AFP/OLEKSANDR GIMANOV)

RADAR TANGSEL RATAS – Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia pekan ini dengan membawa misi perdamaian menjadi sorotan publik. Sebab, lawatan ini berlangsung ketika Rusia masih terus menggempur wilayah timur Ukraina sejak invasi berlangsung pada 24 Februari 2022 lalu.

Dalam pidatonya di Istana Kremlin, Moskow, Jokowi mengatakan alasan utamanya berkunjung ke Ukraina-Rusia adalah untuk menjadi perantara atau jembatan dialog antara Presiden Volodymyr Zelenksy dan Presiden Vladimir Putin.

“Isu-isu yang berkaitan dengan perdamaian dan kemanusiaan selalu menjadi prioritas kebijakan luar negeri Indonesia. Konstitusi Indonesia mengharuskan kami untuk selalu berusaha memberikan kontribusinya sendiri demi memastikan perdamaian di seluruh dunia,” tutur Jokowi saat berpidato di sebelah Putin.

Jokowi juga menyatakan bahwa meskipun situasi saat ini masih sangat sulit, Indonesia akan tetap berusaha mendorong penyelesaian damai dan dialog terbuka.

Tapi tidak lama setelah Jokowi pulang dari Moskow usai bertemu Presiden Putin, Rusia malah kembali menggempur Ukraina. Lebih dari 20 orang tewas akibat serangan rudal Rusia ke salah satu gedung apartemen dan pusat rekreasi di wilayah Odessa, Ukraina, Jumat (1/7).

BACA JUGA :  Tinja Manusia Bisa Digunakan untuk Mengobati Penyakit di Masa Depan?

Melihat kenyataan tersebut, mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, mengtakan ini pertanda Presiden Putin sama sekali tidak mengindahkan misi perdamaian yang dibawa Jokowi ke Rusia. Sebab, Moskow masih membombardir Ukraina ketika lawatan Jokowi berlangsung.

“Rusia masih belum tertarik untuk akhiri perang di Ukraina. Ini terbukti dari aksi militernya di Ukraina yang kini semakin gencar. Prioritas Rusia saat ini bukan perdamaian namun untuk secara militer taklukkan dan kuasai Ukraina,” ungkap Dino melalui kicauannya di Twitter.

Begitu juga Suzie Sudarman, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia. Ia menganggap lawatan Jokowi ke Ukraina-Rusia lebih kepada misi penyelamatan wajah Indonesia sebagai Presidensi G20.

Suzie pesimistis lawatan Jokowi bisa membuahkan hasil signifikan terhadap upaya damai Moskow-Kyiv. Bargaining position kita, kata Suzie, sangat lemah karena tidak ada posisi tukar yang nyata.

“Presiden Jokowi hanya menunjukkan sesuai permintaan. Zelensky juga diundang ke G20 hanya sebagai goodwill (itikad baik) Indonesia. Kalau negara adidaya akan tidak datang ya sedikitnya Jokowi menunjukkan good will,” tutur Suzie seperti yang dikutip CNNIndonesia.com (1/7).

BACA JUGA :  World Bank Perkirakan Ekonomi China Akan Tumbang Hingga Tahun 2025, Sri Mulyani: Indonesia Bakal Kena Dampak

Suzie juga melihat Putin sama sekali tak menggubris pernyataan Jokowi terkait dorongan dialog damai saat berpidato bersama. Hal itu terlihat dari pidato Putin bersama Jokowi yang sama sekali tak menjabarkan hasil pembicaraan mereka soal invasi Rusia ke Ukraina.

“Jelas dia punya kepentingan strategis untuk tidak menjawab. Kepentingan strategis karena dia terjepit di Laut Baltik dan terjepit di Bosphorus dan Dardanella,” ungkap Suzie.

Dengan kondisi tersebut, menurut Suzie, sudah jelas bahwa Putin akan semakin defensif. Putin jelas tak ingin “kalah” dari ancaman negara-negara Barat.

“Sehingga dia tidak akan menguraikan apakah dia akan mundur dari peperangan ini atau tidak. Karena itu tergantung apakah dalam keterjepitan negara kontinental tersebut dia akan menyerang NATO atau tidak. Dan sebaliknya NATO akan membalas atau tidak,” tutur Suzie. (BD)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini