Muhidin Sebut Kadis SDA Tak Punya Langkah Strategis Atasi Banjir

0
52

RADARTANGSEL RATAS – Hujan yang mengguyur Jabodetabek sejak Jumat (15/7/2022) malam membuat sejumlah wilayah tergenang banjir. 

Khusus di DKI Jakarta berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat ada 14 kecamatan yang terdampak banjir di Jakarta.

Pengamat masalah sosial, Muhidin Muchtar mengatakan musibah banjir sudah mengintai warga Jakarta.

“Setidaknya ada 3 bahaya laten di Jakarta yakni, polusi, macet, dan banjir,” ujar Muhidin saat berbincang dengan Jakarta Raya, Sabtu (16/7/2022).

Menurut aktivis Betawi ini problem utama masalah banjir sungai di Jakarta adalah pertama daya tampung sungai Ciliwung dan sungai-sungai besar lainnya yang makin rendah akibat penyempitan lebar sungai dan pendangkalan.

Kedua, lanjut Muhidin tidak ada upaya normalisasi sungai dengan melakukan pembebasan lahan sekitar sungai untuk menambah lebar sungai.

“Padahal program tersebut sudah dianggarkan namun tidak pernah terlaksana, termasuk belum lama ini yang di anggarkan dalam program PEN (pemulihan ekonomi nasional) yang tahun 2021 di anggarkan 800 Miliar. Anggaran ini tidak terserap oleh dinas sumber daya air (SDA) DKI, karena kepala dinas nya tidak berani untuk melakukan pembebasan lahan,” bebernya 

BACA JUGA :  Enggak Mempan "Disogok", Penjual Nasi Padang di DKI Ini Tetap ke Prabowo, Salut!

Akibatnya lanjut Muhidin praktis 2 tahun ini tidak ada langkah-langkah strategis yang dilakukan kepala dinas SDA untuk penanggulangan banjir.

“Banyak lahan yang sudah keluar SPM (surat perintah membayar), tapi tidak dilaksanakan oleh dinas SDA. Anggaran tersebut malah dikembalikan alias tidak terserap dengan alasan yang tidak jelas. Dinas SDA terlihat tidak serius dalam penanggulangan banjir, saya khawatir visi gubernur untuk mewujudkan maju kotanya, bahagia warganya tidak akan terwujud,” ungkapnya 

Menurut Muhidin Gubernur harus berani mengganti kepala dinas SDA yang saat ini juga diduga terlibat kasus pengadaan alat pemeliharaan jalan saat menjabat kepala dinas bina marga DKI. Saat ini kasus ditangani Kejati DKI Jakarta.

“Jangan karena satu titik, rusak susu sebelanga. Gubernur perlu merombak dinas-dinas sebelum meninggalkan jabatannya demi terwujud cita-citanya, maju kotanya, bahagia warganya,” pungkasnya.(hds)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini