Tinja Manusia Bisa Digunakan untuk Mengobati Penyakit di Masa Depan?

0
77
Ada ilmuwan yang memperkenalkan teori baru bahwa sampel tinja yang diawetkan selama puluhan tahun dengan cara didinginkan hingga minus 112 derajat Fahrenheit dapat menyembuhkan penyakit di kemudian hari. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Para ilmuwan dari Harvard Medical School dan Brigham and Women’s Hospital di Boston baru-baru ini mengungkapkan sebuah teori baru yang bisa dibilang “nyeleneh”. Mereka menyatakan bahwa sampel tinja yang diawetkan dengan cara didinginkan hingga minus 112 derajat Fahrenheit dapat menyembuhkan penyakit di kemudian hari.

Dalam laporan terbaru yang diterbitkan di Trends in Molecular Medicine, tercatat bahwa perubahan rata-rata mikrobioma usus dalam beberapa dekade terakhir berkorelasi dengan peningkatan tingkat penyakit kronis seperti asma, alergi, penyakit sistem pencernaan, dan diabetes tipe 2.

Para ilmuwan percaya bahwa usus berkaitan dengan kekebalan tubuh. Itulah alasan mengapa mereka menyatakan bahwa sampel dari kotoran “muda dan sehat” yang mengandung semua mikroba seperti yang ditemukan di lapisan usus, dapat “meremajakan” tubuh yang menua.

“Gagasan ‘membangun kembali’ mikrobioma manusia memang telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dan diperdebatkan secara serius dari perspektif medis, etika, dan evolusi,” kata penulis koresponden Yang-Yu Liu, seorang profesor kedokteran di Harvard, dalam sebuah pernyataan kepada ScienceDaily.

BACA JUGA :  Jika PDIP Pilih Ganjar Sebagai Capres, Keduanya Bakal Jadi 'Game Changer' di Pilpres 2024?

Para peneliti menjelaskan sebuah pendekatan bahwa kotoran yang telah dibekukan selama puluhan tahun akan dicairkan dan “diperkenalkan” kembali kepada pasien yang mengeluarkan kotoran. Proses ini disebut sebagai autologus (artinya diperoleh dari individu yang sama) transplantasi mikrobiota tinja, atau auto-FMT.

Meski demikian, belum diketahui apakah saat ini manusia memperoleh keuntungan dari memutar balik waktu pada mikrobioma mereka sendiri.

Transplantasi tinja sebenarnya sudah dipelajari dan diterapkan di beberapa bidang kedokteran. Misalnya, tinja donor yang sehat baru-baru ini muncul sebagai obat untuk menangani Clostridioides difficile, yang menginfeksi setengah juta orang Amerika setiap tahun dan membunuh sekitar 29.000 orang.

Karena itulah, kata Liu, penelitian yang dilakukan saat ini berkaitan dengan beberapa “masalah praktis” tentang bagaimana cara menyimpan kotoran untuk jangka waktu yang lama, termasuk metode penyimpanan dan biayanya.

“Sebagai ilmuwan, tugas kami adalah memberikan solusi ilmiah yang pada akhirnya dapat bermanfaat bagi kesejahteraan manusia,” tutur Liu.

Menurut Liu, upaya mengembangkan model bisnis dan menetapkan harga yang masuk akal agar terjangkau oleh semua orang pastinya membutuhkan kerjasama gabungan antara pengusaha, ilmuwan, dan mungkin pemerintah.

BACA JUGA :  Cukai Rokok Direncanakan Naik di 2023, Pekerja Industri Rokok Ketar-Ketir

Scott T. Weiss, seorang profesor di Fakultas Kedokteran Harvard dan Direktur Channing Division of Network Medicine di BWH, bersikeras tentang kemungkinan tersebut.

“FMT autologus memiliki potensi untuk mengobati penyakit autoimun seperti asma, multiple sclerosis, penyakit radang usus, diabetes, obesitas, penuaan, dan bahkan penyakit jantung,” kata Weiss kepada ScienceDaily.

Ia pun berharap makalah tersebut bisa mendorong para ilmuwan untuk melakukan beberapa uji coba jangka panjang dari FMT autologus hingga akhirnya diyakini bisa bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. (BD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini