Duh! Harga Emas Dunia Kembali Anjlok Gara-Gara Dolar Menguat

0
43
Tak hanya berfungsi sebagai aset safe-heaven, para pelaku pasar juga bisa memanfaatkan emas sebagai hedging (lindung nilai) saat kondisi pasar mempunyai volatilitas yang tinggi seperti saat ini. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Harga emas kembali merosot pada perdagangan Rabu (17/8) atau Kamis waktu Jakarta (18/8). Hal itu terjadi setelah risalah dari pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), menunjukkan bahwa laju kenaikan suku bunga di masa depan akan tergantung pada data ekonomi yang masuk. Selain itu, nilai tukar dolar juga menambah tekanan terhadap harga emas.

Seperti yang dikutip CNBC, Kamis (18/8), harga emas hari ini di pasar spot turun 0,62 persen menjadi USD 1.764,45 per ounce dan harga emas berjangka AS turun 0,58 persen menjadi USD 1.779,3.

Risalah dari pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Juli lalu menyatakan bahwa agar inflasi menghilang, dibutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan awal.

Laju kenaikan suku bunga di masa depan akan tergantung pada data ekonomi yang masuk, serta penilaian The Fed tentang bagaimana ekonomi beradaptasi dengan tingkat yang lebih tinggi yang telah disetujui.

“Pasar emas melihat risalah Fed dengan kemiringan Dovish dan harga naik lebih tinggi,” kata Analis Standard Chartered Suki Cooper.

BACA JUGA :  Wowon ‘Serial Killer’ Ternyata Punya Enam Istri dan Telah Siapkan Nisan untuk Anak

Harga emas memangkas kerugian setelah risalah pertemuan The Fed dirilis. Tapi harga emas tetap lebih rendah dan turun hampir sepanjang hari karena kurs dolar yang lebih kuat.

“Kami memperkirakan The Fed akan menaikkan 50 bps pada bulan September dan fokus akan beralih ke data CPI Agustus dan data non-farm payrolls September untuk menentukan apakah inflasi memang melambat dan pasar tenaga kerja melemah,” tambah Cooper

Meskipun emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan dengan hasil nol.

“Kami masih melihat The Fed yang berkomitmen untuk memerangi tekanan inflasi dengan kenaikan suku bunga mendatang. Tapi, laju kenaikan suku bunga mendatang yang berpotensi dipertanyakan,” kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures.

Pernyataan Hawkish dari pejabat Fed baru-baru ini telah membebani emas batangan tanpa bunga, dan Fed mendanai pedagang masa depan dengan memperkirakan peluang 57,5 persen dari kenaikan 50 bps pada bulan September setelah rilis.

BACA JUGA :  Viral! Kecelakaan Balon Udara di Cappadocia, Dua Turis Asal Spanyol Tewas

Di tempat lain, harga perak turun 1,59 persen menjadi USD 19,7973 per ounce, harga platinum turun 1 persen menjadi USD 925,4466. Sementara harga paladium turun 0,83 persen menjadi USD 2.135,72.

Sebelumnya, harga emas merosot pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta) karena nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertahan mendekati level tertinggi dalam 3 pekan. Sementara investor menunggu arah kenaikan suku bunga dari risalah pertemuan terakhir The Fed.

Seperti yang dirilis CNBC, Rabu (17/8), harga emas hari ini di pasar spot turun 0,2 persen menjadi USD 1.774,79 per ounce, setelah turun lebih dari 1 persen pada hari Senin.

Sedangkan harga emas berjangka AS turun 0,5 persen pada USD 1.789,7. Kurs Dolar bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga minggu di awal sesi perdagangan.

“Harga emas menghadapi beberapa kelelahan karena dolar terus menguat menjelang risalah The Fed. Pasar emas akan sangat ‘berombak’ hinggga pertemuan The Fed pada bulan September mendatang,” kata Analis Senior OANDA, Edward Moya.

BACA JUGA :  Catat! Warga yang Beli Kendaraan Listrik dan Rumah di IKN Bakal Bebas dari Pajak

Risalah dari pertemuan The Fed bulan lalu akan dipublikasikan pada pukul 14:00 ET pada hari Rabu.

“Risalah The Fed kemungkinan akan mengkonfirmasi keyakinan bahwa kenaikan suku bunga agresif masih di atas meja, yang dapat mendukung dolar dan berpotensi memberikan tekanan ke bawah pada emas,” tambah Moya.

Baru-baru ini, beberapa pejabat The Fed menyoroti perlunya terus menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang terus-menerus. Emas dianggap sebagai lindung nilai inflasi tetapi tingkat yang lebih tinggi membuat aset yang tidak menghasilkan kurang menarik. (BD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini