Lihat Rekaman 32 CCTV, Mahfud: Tragedi Kanjuruhan Ternyata Lebih Mengerikan dan Menyedihkan

0
49
Salah satu foto kericuhan di area lapangan yang berujung pada tragedi Kanjuruhan. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengungkapkan setidaknya ada 32 Closed Circuit Television (CCTV) yang terpasang di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Kronologis Tragedi Kanjuruhan yang terekam pada CCTV ternyata Lebih mengerikan daripada yang tayangan-tayangan yang beredar di televisi maupun media sosial. Hal tersebut diungkap oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

“Proses jatuhnya korban itu jauh lebih mengerikan dibanding yang beredar di televisi maupun di medsos,” kata Mahfud dalam konferensi persnya di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (14/10), dikutip Warta Ekonomi.

Kronologi jatuhnya korban diperoleh Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) melalui 32 CCTV yang ada di sekitar Stadion Kanjuruhan. Menurut Mahfud, jatuhnya korban tidak sekonyong-konyong karena gas air mata saja.

Pedihnya gas air mata memang membuat ribuan penonton berjerit. Tapi banyak juga korban berjatuhan karena kehabisan napas pada saat kejadian. “Ada yang saling gandengan untuk keluar bersama; yang satu bisa keluar, yang satu tertinggal. Yang di luar stadion balik lagi untuk menolong temannya, terinjak-injak, mati,” ungkap Mahfud.

Lebih lanjut, ada pula yang mencoba membantu memberi napas buatan tapi gugur di lokasi karena gas air mata yang langsung membumbung di langit Stadion Kanjuruhan. Akibatnya, banyak yang pingsan, kritis, bahkan tewas di tempat. “Dipastikan itu terjadi karena desak-desakan setelah ada gas air mata yang disemprotkan. Itu penyebabnya,” ujar Mahfud.

BACA JUGA :  Nelayan di Muara Baru Jakut Mogok Operasi, Menolak PP 11 Tahun 2023 tentang Penangkapan Ikan Terukur

Mahfud juga bicara soal kandungan zat kimia yang ada dalam gas air mata. yang kini tengah dilakukan pedalaman di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pendalaman tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat keberbahayaan gas air mata yang digunakan.

“Apapun hasil pemeriksaan dari BRIN, itu tidak bisa mengurai kesimpulan bahwa kematian massal itu terutama disebabkan oleh gas air mata,” tutur Mahfud. (BD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini