Waduh! Akibat Perubahan Iklim, Situs-Situs Penting Mesir Kuno Terancam Musnah

0
41
Menurut ahli Mesir Kuno, dalam satu abad, peninggalan peradaban kuno dapat lenyap. Situs-situs penting yang diperkirakan akan bertahan selamanya pun perlahan-perlahan mengalami kerusakan. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Perubahan iklim telah memengaruhi aliran Sungai Nil sehingga mengalami penurunan debit air dalam 50 tahun terakhir. Di samping itu, kompleks situs peradaban Mesir kuno juga turut terimbas.

Seperti yang dilansir Channel News Asia, Rabu, 9 November 2022, di daerah Luxor yang terkenal dengan kekayaan sejarah manusia, mulai dari kuil hingga makam kuno terkena imbas dari krisis perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Salah satu ahli Mesir Kuno mengungkapkan bahwa dalam satu abad, peninggalan peradaban kuno dapat lenyap. Situs yang diperkirakan akan bertahan selamanya pun perlahan-perlahan mengalami kerusakan.

Di saat yang bersamaan, para pemimpin dunia berkumpul di Sharm el-Sheikh, Mesir, untuk menghadiri Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP27).

Menurut Zahi Hawass, mantan Menteri Negara Bidang Purbakala, jika masyarakat tidak mengendalikan perubahan iklim dalam 100 tahun serta mengakomodasi kebutuhan pariwisata dan pelestarian peninggalan kuno, semua makam akan hilang. “Makam Lembah Para Raja akan runtuh semuanya. Dan kita semua akan menyesal,” ungkap Zahi.

BACA JUGA :  Investor Bisa Pegang HGU 190 Tahun di IKN, Kementarian ATR: Agar Menarik Lebih Banyak Peminat

Faktor iklim yang memengaruhi situs kuno di seluruh Mesir bervariasi, mulai dari suhu tinggi, angin kencang, dan gelombang panas yang berkepanjangan. Gelombang panas yang berkepanjangan di luar pola cuaca normal berdampak pada proses pengerjaan baru, mengurangi warna asli, dan menyebabkan keretakan pada batu. Banjir bandang dari hujan lebat dapat membahayakan struktur lumpur yang sangat rentan dan kuburan mesir kuno yang terbuka.

Aliran Sungai Nil yang tidak konsisten dan pembangunan bendungan yang menghilangkan denyut air musiman juga memengaruhi situs mesir kuno. Bahkan ledakan populasi di Mesir pun turut menyumbang kerusakan peradaban kuno.

Ledakan populasi ini berarti ada aktivitas pertanian yang intensif, serta ada pembangunan rumah-rumah tanpa infrastruktur pembuangan limbah yang layak di dekat situs kuno. Tidak hanya itu saja, polusi udara tentunya juga meningkat.

“Kami mengalami musim panas yang sangat buruk dengan suhu tinggi, yang memengaruhi monumen dan barang-barang antik,” ujar Hisham el-Leithy, Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Dokumentasi Barang-Barang Antik Mesir.

BACA JUGA :  Guna Lengkapi Alat Bukti Kasus Korupsi BTS 4G Kominfo, Kejagung Geledah Dua Kantor Berbeda

Hisham menambahkan, efek yang ditimbulkan biasanya tidak seperti saat ini. “Kami mencoba yang terbaik untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya.

Dampak yang paling terasa tampak pada situs-situs bawah tanah. Hisham melihat ada kenaikan permukaan air tanah yang dapat mengancam pondasi dari situs kuno.

Beberapa program yang dibantu oleh lembaga internasional sudah dijalankan di beberapa lokasi penting untuk menurunkan tingkat air tanah dan membuat jaringan drainase. Perbaikan tersebut salah satunya dilakukan di Colossi of Memnon.

Dua patung raksasa yang berada di depan reruntuhan Kuil Mortuary Amenhotep II di Luxor sedang menghadapi program penurunan tingkat air tanah dan pembuatan drainase. Letaknya yang berada di sekitar ladang pertanian memperburuk tekanan pada batu yang halus.

“Banyaknya perubahan di Lembah Nil, yaitu ladang terus diari dengan air yang tercemar garam, dapat merusak bebatuan situs,” ujar Hourig Sourouzian, Direktur Proyek Konservasi.

Menurut Hourig, kompleks kuil seperti ini dapat hilang begitu saja. Pengabaian dampak-dampak perubahan iklim merupakan musuh bagi monumen-monumen situs bersejarah ini.

BACA JUGA :  Mengejutkan! Tiba-Tiba Ada Pihak Swasta Kembalikan Uang Rp 27 Miliar dalam Kasus Korupsi Bakti Kominfo

“Mesir merupakan negara yang kaya dengan peradaban yang hebat yang penuh dengan monumen untuk dilestarikan dan kita harus menyelamatkan apa pun yang kita bisa,” ujar Hourig.

Pada saat yang sama, naiknya permukaan air laut dan intrusi air asin merupakan masalah bagi struktur kuno di Mesir Hilir. Permasalahan ini juga memerlukan perhatian yang khusus secara terus-menerus, terlebih lagj dekat dengan Laut Mediterania. (BD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini