Antisipasi Gempa, BNPB Sarankan Desain Gedung Pemerintahan di Jakarta Harus Tahan Gempa 7 SR

0
27
Berada di wilayah yang rawan gempa, gedung-gedung perkantoran di Jakarta memang wajib dirancang tahan gempa. Kabar baiknya, mayoritas pencakar langit terbaru di Jakarta sedari awal memang dirancang mampu bertahan dari dampak gempa hingga kekuatan 8 skala richter. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono melakukan kunjungan ke kantor pusat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa (27/12/2022).

Dikutip dari suara.com (27/12), kedatangannya itu bertujuan untuk membahas sejumlah hal terkait bencana di Jakarta dengan Ketua BNPB Suharyanto. Pertemuan keduanya berlangsung selama satu jam sejak pukul 08.30 WIB.

Usai melakukan pembahasan sejumlah hal di dalam kantor BNPB, Heru mengaku menerima sejumlah saran dari Suharyanto terkait pencegahan bencana di Jakarta dengan belajar dari kota di negara lain yang rawan bencana.

“Tadi kepala BNPB menyampaikan adanya pencegahan. Maka beliau menyarankan belajar dari kota-kota lain di mana banyak bencana dan menimbulkan kerugian yang cukup besar,” tutur Heru kepada wartawan.

Salah satu saran yang Heru terima adalah mengubah desain gedung pemerintahan di Jakarta. Desain baru ini dianjurkan agar kuat tahan gempa 7 skala richter. “Maka tadi beliau menyarankan misalnya untuk perencanaan sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur atau bangunan milik pemerintah itu harus konsepnya misalnya di atas 7 skala richter,” papar Heru.

BACA JUGA :  Suharto Terpilih Sebagai Ketua RW 02, Unik dan Menarik, Pemilihan RW di Sukapura (Jakut) Mirip Pilpres dan Pileg karena di Setiap RT Ada TPS-nya

Dengan desain gedung tahan gempa ini, maka apabila sewaktu-waktu terjadi gempa, pemerintah tak akan mengalami kerugian yang cukup besar. “Jadi didesain seperti itu. Sehingga pencegahannya dapat direncanakan,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Jakarta disebut tetap menjadi wilayah yang rawan terdampak guncangan meskipun tak punya sumber gempa di wilayahnya.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, fenomena ini disebabkan karena tanah di bawah Jakarta merupakan tanah lunak.

“Rambatan gempa dari jauh yang justru terasa hebat di Jakarta disebut fenomena “efek tapak” atau local site effect, di mana kondisi tanah suatu wilayah tak bisa meredam guncangan,” tutur Daryono beberapa waktu lalu, dikutip dari Kompas.com.

Daryono juga menjelaskan bahwa tanah di bawah Jakarta didominasi tanah aluvial hasil endapan ratusan atau ribuan tahun dari erosi di pegunungan wilayah Bogor. (BD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini