Keren, Mahasiswa ISTN Berhasil Kembangkan Sistem Absensi Terbarukan yang Canggih

0
146

RADAR TANGSEL RATAS – Keren dan patut diacungi jempol karya mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) bernama Luthfi Alkhafid ini. Ia berhasil mengembangkan sistem absensi terbarukan.

Yaitu, sistem absensi mobile tervalidasi. Pada semester genap 2023 ini, mahasiswa pemilik Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 19360015 itu berhasil mengembangkan sistem absensi terbarukan dengan memanfaatkan teknologi IOT tervalidasi.

“Modelnya mirip topologi client server. Alat absensinya adalah sebagai client yang mengirimkan data absensi kepada server secara realtime,” ujarnya dalam rilis yang dikirim ke redaksi Kantor Berita ratas.id RADAR TANGSEL, Senin, 6 Maret 2023.

Dan, lanjut Luthfi, server menampung data dari client untuk menjadikannya sebagai arsip. “Kelebihan dari sistem yang digunakan adalah bahwa sisi client tidak butuh unsur PC atau laptop. Sehingga, hemat daya dan biaya. Karena, cukup perangkat mikro yang akan aktif saat ada trigger masuk,” paparnya.

Luthfi menambahkan, trigger yang masuk dapat berupa sensor apa pun yang dalam hal riset ini menggunakan data kartu RFID pengguna yang tentunya sudah terdaftar di sisi admin server. “Untuk antisipasi akan adanya pengguna titip absen atau cara tricky absen lainnya, sistem akan otomatis mengaktifkan kamera dan meng-capture wajah pengguna,” cetusnya.

BACA JUGA :  Tren Dukungan Terhadap Anies Menurun, Demokrat Ingin Evaluasi Pencapresan Mantan Gubernur DKI Jakarta Itu

Sehingga, ia menerangkan, sistem client akan mengirimkan data RFID, image wajah, sistem waktu dan ID client. Untuk diketahui, ID Client digunakan sebagai nama unik alat sebagai pembeda antar-alat yang dalam hal ini merujuk pada data lokasi penempatan, gate dan atau jenis mode-nya.

“Lokasi penempatan menunjukkan alat ini dipasang di alamat mana. Sehingga, mudah terlacak lokasi alat, tema dan dengan tujuan apa alat tersebut digunakan,” urainya.

Hingga aplikasi ini dibuat, ungkapnya, sistem sudah dikembangkan sampai tahap input data dari sidik jari/fingerprint pengguna.

Keunggulan Alat Ini

Keunggulan lain alat ini, tukas Luthfi, adalah kemampuannya yang teruji untuk dipasang di kondisi lapangan yang super sibuk/crowded. “Misalnya, membantu petugas di lapangan saat ada PAM keamanan, yang misal selama ini menggunakan teknologi absen manual atau layanan aplikasi WAG,” imbuhnya.

Bagaimana caranya? Terang Luthfi, yaitu, cukup ubah kode awal di file.txt yang ada di SDCARD berupa nama SSID, password SSID, dan SN alat.

“Maka, alat secara otomatis sudah mampu bekerja di lapangan. Sangat dinamis sekali,” tambah Tim Pengarah Sistem, Ir. Andi Suprianto, M. Kom.

BACA JUGA :  Tarif Tol Akan Dinaikkan Secara Serentak, Maskapai Penerbangan Diprediksi Bakal 'Menang Banyak'

Karena, tandas Andi, jikalau pun layanan internet tidak tersedia di lapangan, maka sistem alat akan otomatis me-record data ke dalam SD card yang disediakan.
‘Dan, baru saat kembali ke kantor atau yang ada jaringan, file dapat di-import ke dalam aplikasi/database server,” jelasnya.

Andi yang juga pernah menjabat sebagai kepala program studi (kaprodi) Teknik Informatika (TIF) Fakultas Sains dan Teknologi Informasi (FSTI) Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTNl) itu menambahkan bahwa alat yang dibuat mahasiswa tersebut sudah layak diterapkan di industri. “Karena, memang seperti itu kondisi ideal untuk proses absensi di lapangan,” sebut dia.

Bila hanya menggunakan teknologi face detection, sambungnya, maka kebutuhan waktu, memori dan spesifikasi client/server adalah sangat tinggi, image processing yang lama juga sistem belum dapat membedakan secara baik jika ada kasus wajah yang memang serupa. “Atau, jika hanya mengandalkan sensor sidik jari di lapangan, sudah banyak yang menjual miniatur sidik jari sehingga mudah untuk disalahgunakan,” cetus dia.

Atau, menggunakan aplikasi mobile berdasarkan lokasi GPS absensi, ia berkata. “Hal ini pun sudah dapat dimanipulasi dengan penggunaan pengubah lokasi GPS pengguna. Maka, yang lebih amannya adalah sistem penggunaan masukan berikut proses validasi di sisi admin servernya,” tandasnya.

BACA JUGA :  Hadiri Zikir Akbar di Sumsel, Airlangga Hartanto: Semua Partai Ingin Berkomunikasi dengan Golkar

Andi menegaskan, kesimpulan dari riset ini adalah bahwa sistem mampu mengirimkan data dari client ke server-localhost dalam waktu rata-rata empat detik. “Yakni, berupa data image hasil caturean, data id pengguna (RFID/fingerprint), data s/n alat.
Juga, server mampu meng-extract data masukan (nama pengguna, lokasi alat, sistem waktu) serta mengarsipkannya,” imbuh dia.

Sistem alat juga mampu membaca perubahan alamat SSID dan S/N alat serta mampu mem-backup data ke SDCARD lokal saat tidak ada koneksi internet/jaringan, ucapnya. “Sebagai hasil saran pengembangan dari tim penguji, dari sistem alat yang dibuat adalah bahwa pengembangan masukan dari model RFID/fingerprint menjadi sistem deteksi wajah realtime menggunakan konsep tensorflow yang berarti hanya menerima wajah asli dan bukan dari gambar,” ia berucap.

Ia menambahkan, sistem mampu otomatis memvalidasi data foto yang masuk, apakah benar atau tidak dengan angka kemiripan tertentu. “Sehingga, proses validasi oleh admin secara manual dapat diminimalisasi,” pungkasnya. (AGS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini