Insiden Kabel Menjuntai, Ayah Anak yang Jadi Korban Tolak Uang Rp 2 M dari Bali Tower

0
12
Sultan Rif'at Alfatih (20 tahun) beberapa bulan lalu mengalami kecelakaan di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, akibat kabel fiber optik yang menjuntai dan terlepas menjerat lehernya. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Fatih, ayah mahasiswa bernama Sultan Rif’at Alfatih, menyebutkan pihak Bali Towerindo mendatanginya seusai insiden kabel menjuntai yang menjerat putranya. Fatih mengatakan Bali Tower memberikan uang Rp 2 miliar sebagai kompensasi, tapi uang itu ditolaknya.

Menurut Fatih, Bali Tower menemuinya pada Jumat (28/7/2023) pekan lalu. Uang Rp 2 miliar tersebut ditolak lantaran perusahaan itu dianggap tidak ada iktikad baik ketika menemui pihak keluarga beberapa waktu lalu.

“Sekarang gini, anak kita masih sakit. Kondisinya seperti ini, tiba-tiba dia datang dengan tergopoh-gopoh terus diberikan uang untuk menyelesaikan ini Rp 2 miliar ke saya,” unfkap Fatih kepada wartawan, Rabu (2/8).

Melihat cara perusahaan itu yang langsung membahas soal uang ganti rugi, Fatih mengaku tersinggung. Sebab, menurut dia, fokusnya saat ini pada kesembuhan Sultan.

“Anak saya seperti apa, baru setelah itu kondisi anak saya seperti apa dan bagaimana, baru ngomong angkanya. Jadi jangan ujuk-ujuk begini ngawur itu. Enggak ada etika lah,” ungkap Fatih.

“Ya sekarang anak kita masih sakit, dia langsung ngomong uang aja ke saya seolah-olah uang ini menyelesaikan semuanya. Tidaklah. Kita ini kan ingin anak kita sehat kembali ke normal intinya kan di situ,” ia menambahkan.

BACA JUGA :  Erick Thohir Anggap Timnas AMIN Ingin Bubarkan BUMN dan Diganti dengan Koperasi, Said Didu Angkat Bicara

Sementara itu, kuasa hukum keluarga, Tegar Putuhena, mengatakan pihaknya menuntut pihak Bali Towerindo membuat permintaan maaf secara terbuka buntut kasus yang ada.

“Akui kalau itu kesalahan dari Bali Tower secara terbuka. Kedua, dia minta maaf secara terbuka supaya tidak ada Sultan-Sultan yang lain. Karena pengendara sepeda motor di Jakarta banyak, maka akan terjadi lagi terjadi lagi,” ujarnya.

“Kalau kita bicara soal biaya pengobatan kompensasi dan lain sebagainya itu oke, tapi datang dengan cara baik-baik, bereskan dulu masalah yang paling prinsip,” tutur Tegar. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini