Soal Kereta Cepat Tak Akan Bisa Balik Modal Sampai Kiamat, Rhenald Kasali Angkat Bicara

0
43
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) juga dikenal dengan nama WHOOSH (Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Handal). Kereta ini memiliki kecepatan operasional hingga 350 km/h (217 mph), menghubungkan Tegalluar di Bandung, Jawa Barat dengan Halim di Jakarta Timur. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Pemerintahan era Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkenal dengan proyek-proyek infrastruktur dan transportasi jumbo, mulai dari jalan tol hingga kereta cepat.

Tapi, di tengah anggaran yang jorjoran dikeluarkan untuk itu, tak sedikit masyarakat yang skeptis bahwa proyek-proyek itu tak akan bisa balik modal. Hal itu disampaikan oleh pakar bisnis Prof. Rhenald Kasali.

Menurut Rhenald, tak sedikit omongan-omongan serupa sampai ke telinganya. Meski demikian, menurutnya, pandangan orang menyangkut hal tersebut akan berbeda-beda, bergantung dari disiplin ilmu masing-masing.

“Ada yang bilang sampai kiamat pun Kereta Cepat nggak akan balik modal. Sedikit cerita, saya pernah ke Eropa, dan hampir semua di sana nggak ada yang balik modal. Salah satunya kereta yang ada di Swiss,” tutur Rhenald dalam acara Hub Space X KAI Expo 2023 di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (29/9/2023).

Rhenald menjelaskan, di sana setiap 3 menit sekali kereta datang ke stasiun. Bahkan ketika Sabtu-Minggu, saat warga di sana libur dan banyak menghabiskan waktu di rumah, kereta tetap beroperasi walaupun minim penumpang.

BACA JUGA :  China Minta APBN Jadi Jaminan Utang Proyek Kereta Cepat, Indonesia Tertipu Janji Manis China?

“Nggak ada penumpang tapi muter terus, bagus terus, dibagusin terus. Ketika saya baca-baca, itu subsidi semua. Jadi kalau sampai kiamat nggak balik modal, pasti kita nggak akan bangun itu. Karena publik transportasi publik memang harus subsidi,” ungkapnya.

Rhenald melanjutkan, cerita lainnya yang ia dengar ialah kritik tentang pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Beberapa orang berpendapat jalan tol tersebut belum saatnya dibangun karena belum betul-betul dibutuhkan. Tapi menurut Rhenald, ini bukan hanya sekedar waktu, tapi juga keadilan.

“Itu bukan hanya waktunya, tapi ada aspek kemerataan keadilan. Kalau kalian jadi orang Sumatera, apakah kalian tak merasa ‘kok Jawa semua yang dibangun?’ Menurut saya kalau dibangun di Jawa saja atau Jakarta saja itu ada masalah keadilan, jadi keterhubungan itu penting,” paparnya.

Ia lalu menjelaskan bahwa dalam konsep ekonomi, keuntungan tak hanya dilihat dari balik modalnya baru diputuskan dibangun atau tidak. Pun juga bukan hanya sekedar persoalan waktu kapan dibutuhkannya, tetapi juga terkait dengan branding.

BACA JUGA :  Kereta Cepat Jakarta-Bandung Sukses Diuji Coba Pertama Kali dari Stasiun Tegalluar ke Stasiun Halim

“Ada juga yang bilang buat apa bangun Kereta Cepat Jakarta-Bandung, sekarang kan udah ada flyover jalannya jadi cepat. Tetap menurut saya kita butuh reputasi. Coba apakah saudara tidak bangga, tadi ada gambarnya kan, transportasi kita sudah bertambah,” ujar Rhenald.

“Saya kira ini membanggakan dan saya senang sekali melihat prestasi dan negara saya lebih dihargai dibandingkan masa-masa lalu,” ia menambahkan. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini