Tabrakan Argo Semeru dengan Argo Willis, Pengamat: Itu Akibat Akumulasi Panas Pada Rel

0
37
Kecelakaan tabrakan kereta Argo Semeru dengan Argo Willis terjadi pada hari Selasa (17/10/2023) sekitar pukul 13.30 WIB. Pengamat transportasi menduga kecelakaan tersebut adalah akibat dari cuaca yang sangat panas. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Seperti diketahui bersama, pada Selasa kemarin (17/10/2023), terjadi kecelakaan antara KA Argo Semeru dengan KA Argo Willis di Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Awalnya, KA Argo Semeru anjlok, dan di saat bersamaan KA Argo Willis melintas dari arah berlawanan atau rel kiri. Kedua kereta itu bersenggolan, dan pada akhirnya lokomotif KA Argo Willis ikut anjlog.

Menurut Polisi, jumlah korban yang terluka dari kecelakaan tersebut mencapai 31 orang. “Adapun yang luka baik ringan maupun menjalani rawat inap sejumlah total 31 orang,” kata Kapolres Kulon Progo AKBP Nunuk Setyawati kepada wartawan, Selasa (17/10/2023).

Nunik menjelaskan, ada 472 penumpang yang tercatat di KA Argo Semeru. Sementara jumlah penumpang KA Argo Wilis tercatat 288 penumpang. Beruntung, tidak ada korban jiwa dari kecelakaan tersebut.

Menurut Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang, penyebab kecelakaan adalah cuaca yang panas.

“Saat ini di Indonesia terjadi bencana El Nino sehingga panas menyengat sampai 36 derajat Celsius, terasa 40 derajat Celsius seperti di DIY hari ini. Apalagi terjadi nya kecelakaan KA hari ini pada pukul 13.15 WIB ketika terjadi akumulasi panas di atas permukaan rel KA,” kata Deddy dalam keterangannya, Senin (17/10/2023).

BACA JUGA :  Kasus Paspampres Perkosa Prajurit Kostrad, Panglima TNI: Ternyata Bukan Pemerkosaan, Tapi Suka Sama Suka

Deddy menjelaskan bahwa kondisi setiap komponen prasarana akan selalu berubah jika tidak ada perawatan secara khusus. Cuaca panas, kata dia, akan mengubah kondisi rel.

“Permasalahan skilu dan rel spaten sering terjadi pada jalan rel bila suhu panas sangat tinggi. Skilu adalah perubahan ketinggian atau kelendutan rel, sedangkan spaten adalah perubahan rel karena rel memuai akibat akumulasi panasnya rel bisa jadi menjadi skilu,” paparnya.

Lebih lanjut, Deddy menekankan agar PT KAI atau Dirjen Perkeretaapian Kemenhub terus mengecek rel dan mengantisipasi perubahan rel akibat panas.

“Maka untuk mengantisipasi perubahan rel akibat panas yang tinggi diperlukan pengukuran skilu rel yang rutin oleh KAI/DJKA sehingga dapat dihindari rel spaten,” katanya.

Tak lupa, Deddy pun memberikan contoh kecelakaan kereta api akiat rel spaten atau memuai. Kejadian itu terjadi pada 14 September 2006 di Sidoarjo. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini