Jumlah Kasus Stroke di Indonesia Naik, Kemenkes: Akibat Kurang Konsumsi Sayur dan Buah

0
74
Kementerian Kesehatan menginformasikan bahwa salah satu faktor penyebab utama tingginya angka penyakit stroke adalah masih tingginya persentase masyarakat yang tidak menjalani gaya hidup sehat. Salah satunya yakni kurang mengonsumsi sayur dan buah. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Stroke masih menjadi penyakit penyebab kematian paling tinggi di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap faktor-faktor penyebab jumlah pengidap penyakit tersebut masih sangat tinggi.

Sebagai informasi, stroke merupakan kondisi yang terjadi saat bagian otak tidak memiliki aliran darah yang cukup. Hal yang paling sering terjadi karena penyumbatan arteri atau pendarahan pada otak. Tanpa pasokan darah yang stabil, sel-sel di area otak akan mulai mati karena kekurangan oksigen.

Ketua Tim Kerja Gangguan Otak Kementerian Kesehatan RI, dr Tiersa Vera Junita, MEpid, menuturkan bahwa salah satu faktor penyebab utama tingginya angka penyakit stroke adalah masih tingginya persentase masyarakat yang tidak menjalani gaya hidup sehat. Salah satunya yakni kurang mengonsumsi sayur dan buah.

“Sementara kurang makan sayur dan buah masyarakat Indonesia itu mencapai prevalensinya itu tinggi sekali, dari 93,5 persen pada tahun 2013 meningkat menjadi 95,5 persen di tahun 2018,” ungkap dr Tiersa dalam Webinar Kenali dan Kendalikan Stroke Kemenkes, Jumat (3/11/2023).

BACA JUGA :  Program Makan Siang Gratis Diisukan Bakal Pangkas Subsidi BBM, Waketum TKN Prabowo-Gibran Buka Suara

Sememtara berdasarkan data Riskesdas 2013 dan 2018, terjadi peningkatan prevalensi masyarakat yang menjalani gaya hidup kurang sehat. Selain kurang makan sayur dan buah, kebiasaan merokok juga meningkat dari 28,8 persen menjadi 29,3 persen.

Selain itu, terjadi pula peningkatan prevalensi masyarakat yang kurang dalam melakukan aktivitas fisik dari sebelumnya 26,1 persen menjadi 33,5 persen. Tak lupa, dr Tiersa juga menyinggung konsumsi gula garam dan lemak (GGL) yang tinggi.

Lalu tentang konsumsi gula garam lemak berdasarkan studi diet total terdapat 4,8 persen masyarakat yang mengkonsumsi gula melebihi batas yang disyaratkan sebanyak 50 gram per hari pada tahun 2014. Sedangkan untuk garam (2000 mg per hari) sebanyak 52,7 persen dan lemak (67 gram per hari) sebanyak 5,8 persen.

“Pembiayaan stroke juga menjadi salah satu yang tertinggi pada peringkat tiga dengan jumlah Rp 3,23 triliun. Data ini dari BPJS Kesehatan di tahun 2022. Angkanya meningkat terus dari 2021 ke 2022,” tutur dr Tiersa. (ARH)

BACA JUGA :  Pemerintah Nonaktifkan Fitur Ekspor Puluhan Perusahaan Batu Bara yang Abaikan Kewajiban

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini