Soal Ancaman Krisis Pangan Dunia, Jokowi: Ini Benar-Benar Nyata dan Sudah Terjadi

0
52
World Meteorological Organization (WMO) menyatakan tahun 2023 sebagai tahun yang penuh rekor temperatur. Bulan Juni hingga Agustus 2023 merupakan tiga bulan terpanas sepanjang sejarah. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut ancaman krisis pangan dunia adalah hal yang nyata. Artinya, kata Jokowi, Indonesia harus memiliki strategi besar supaya pangan Indonesia bisa mandiri.

“Kita tahu ancaman krisis pangan global, ancaman krisis pangan dunia betul-betul nyata sudah terjadi,” kata Jokowi usai Groundbreaking PSN Kawasan Industri Pupuk Fakfak, Kamis (23/11/2023).

Adapun kawasan industri pupuk Fakfak ini ditargetkan rampung pada 2038 mendatang. Diharapkan kawasan pabrik senilai Rp 30 triliun ini bisa memproduksi pupuk 1,15 juta ton urea dan 825 ribu ton amonia setiap tahun.

Menurut Jokowi, kedaulatan pangan menjadi hal yang sangt penting. Dan yang harus dikejar, kata dia, tidak hanya komoditas beras, tapi juga kedelai, jagung, hingga gula yang masih bergantung kepada negara lain. “Swasembada pangan tidak hanya urusan beras saja, gula urusan kedelai, dan jagung dan lainnya kita memang masih tergantung negara lain,” tutur Jokowi..

Ia lalu menegaskan bahwa Indonesia harus mendorong penggunaan pupuk untuk meningkatkan produktivitas tanam, termasuk membangun kawasan industri pupuk di Papua. “Dan memang wilayah Indonesia bagian timur memang tidak ada industri pupuknya sehingga memang harus dibangun sehingga bisa efisien transportasinya dan harganya murah bagi petani,” ujar Jokowi.

BACA JUGA :  19 Juta Warga Afghanistan Kekurangan Makanan, PBB Serukan Kirim Bantuan

Menurut Kepala Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, perubahan iklim membuat dampak pada perekonomian hingga ketahanan pangan. Sehingga diprediksi 2050 dunia akan menghadapi krisis pangan. Hal itu diungkapkan Dwikorita dalam acara Federation of ASEAN Economist Association (FAEA 46) Conference di Yogyakarta, Jumat (17/11/2023).

“Perubahan iklim yang terjadi saat ini membawa dampak serius bagi perekonomian seluruh negara, tanpa terkecuali, termasuk dalam hal ketahanan pangan. Apabila situasi ini terus dibiarkan, maka Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi tahun 2050 mendatang dunia akan menghadapi krisis pangan,” papar Dwikorita

Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan bahwa World Meteorological Organization (WMO) menyatakan tahun 2023 sebagai tahun yang penuh rekor temperatur. Kondisi ini tidak pernah terjadi sebelumnya, di mana heatwave (gelombang panas) terjadi di banyak tempat secara bersamaan.

Bulan Juni hingga Agustus 2023, kata Dwikorita merupakan tiga bulan terpanas sepanjang sejarah, dan bulan Juli 2023 menjadi bulan paling panas. Realitas perubahan iklim tersebut menjadikan tahun 2023 berpeluang menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan iklim, mengalahkan tahun 2016 dan tahun 2022.

BACA JUGA :  Viral! Angka Kelahiran di China Kini Sangat Rendah, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Terhambat

“Perubahan iklim memberikan tekanan tambahan pada sumber daya air yang sudah semakin langka dan menghasilkan apa yang dikenal sebagai water hotspot,” ungkapnya.

Selain itu, Dwikorita juga menyampaikan bahwa ancaman krisis pangan pada akhirnya juga akan merembet dan berdampak pada krisis lainnya, termasuk ekonomi dan politik sehingga mengganggu stabilitas dan keamanan negara.

Karena itulah, sebelum terlambat, kata Dwikorita, berbagai aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim perlu dilakukan. Di antaranya adalah dengan perubahan gaya hidup dan mengedepankan pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini