Waduh! Asia Tenggara Krisis Jumlah Populasi, Thailand Jadi Negara yang Paling Terancam

0
80
Thailand seharusnya memiliki sekitar 2 juta bayi yang baru lahir di setiap tahunnya. Faktanya, angka kelahiran di negara itu ternyata hanya 500.000 bayi per tahun. Pada 2022 lalu, angka kelahiran Thailand bahkan hanya 485.085 bayi, terendah dalam 74 tahun terakhir. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Jangan kaget. Dalam 74 tahun terakhir, angka kelahiran di negara-negara Asia Tenggara anjlok ke rekor terendah. Negara Thailand menjadi salah satu negara yang diproyeksikan mengalami penurunan terburuk.

Seperti yang dilansir Bangkok Post (17/12/2023), Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Dr Cholnan Srikaew, menuturkan bahwa tingkat kelahiran di negara tersebut hanya 1,5 dari yang seharusnya 2,1 per 100.000 populasi.

Dengan kata lain, saat ini Thailand seharusnya memiliki sekitar 2 juta bayi yang baru lahir di setiap tahunnya. Faktanya, angka kelahiran di negara itu ternyata hanya 500.000 bayi per tahun. Pada 2022 lalu, angka kelahiran Thailand bahkan hanya 485.085 bayi, terendah dalam 74 tahun terakhir.

Dr Cholnan menggarisbawahi perlunya mengubah persepsi masyarakat bahwa banyak anak dapat membuat miskin. “Orang Thailand tidak akan memiliki anak, terutama mereka yang memiliki pendidikan, pengetahuan, dan kemampuan yang baik serta mampu secara finansial. Mereka tidak akan melakukannya,” ungkapnya kepada parlemen pada 12 September 2023 lalu. “Ini adalah sesuatu yang terdistorsi dalam masyarakat Thailand,” ia menambahkan.

BACA JUGA :  Innalillahi! Kementerian PPPA Catat Ada 17 Anak Meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan

Jika tren ini berlanjut, populasi Thailand yang berjumlah 66 juta jiwa akan berkurang setengahnya sebelum pergantian abad ini, dan hal ini akan berdampak besar pada perekonomian, layanan kesehatan, dan pembangunan. Pemerintahan Perdana Menteri Srettha Thavisin pun saat ini sangat menyadari proyeksi populasi dan implikasi jangka panjangnya terhadap angkatan kerja dan produktivitas.

Pada tanggal 25 Desember, sebuah komite yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan Masyarakat mengadakan pertemuan dengan unit-unit terkait untuk membahas kerangka komprehensif untuk tunjangan persalinan, keselamatan ibu dan bayi, serta anak yang berkualitas.

Kementerian tersebut juga berencana membuka klinik kesuburan di setiap provinsi dan mengembangkan langkah-langkah untuk mengurangi beban pengasuhan anak, membantu perempuan yang mengalami kesulitan untuk hamil, dan membuat teknologi reproduksi berbantuan dapat diakses oleh para lajang dan LGBTQ.

Menurut Dr Piyachart Phiromswad dari Sasin Graduate Institute of Business Administration di Chulalongkorn University, jika situasi di Thailand ini terus berlanjut, di mana satu keluarga memiliki sekitar satu anak, maka populasi di negara itu akan menyusut setengahnya dalam 60 tahun – dari 66 juta menjadi sekitar 33 juta.

BACA JUGA :  Hasil Rapat dengan Komisi II DPR, Menteri PANRB: Tidak Ada PHK Massal Tenaga Honorer

Ekonom itu telah mempelajari dampak transisi demografi di Thailand dan menemukan perubahan “drastis dan sangat cepat” dalam tingkat kesuburan selama empat dekade terakhir. Penurunan tersebut begitu signifikan dalam dua tahun terakhir sehingga angka kematian untuk pertama kalinya melebihi angka kelahiran di negara tersebut.

Selain perkiraan depopulasi, jumlah angkatan kerja di Thailand juga diperkirakan menurun dari lebih dari 40 juta orang saat ini menjadi 14 juta orang pada tahun 2083. “Pada saat yang sama, populasi lansia diperkirakan meningkat dari sekitar delapan juta orang menjadi 18 juta orang – atau sekitar separuh negara,” ungkap Dr Piyachart.

Selain itu, Dr Piyachart juga menyebut dampak depopulasi akan sangat besar bagi perusahaan-perusahaan besar yang bergantung pada tenaga kerja dan konsumen dalam negeri. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini