Anggaran Israel Mulai Menipis, Perang dengan Hamas di Gaza Bakal Segera Berakhir?

0
57
Perang antara Israel dengan Palestina di Gaza kemungkinan bakal berlangsung hingga Februari 2024. Bagi Israel, perang itu akan menelan biaya 50 miliar Shekel (US$ 14 miliar) atau setara dengan Rp 216,68 triliun. Besarnya pengeluaran dana untuk perang itu mengakibatkan defisit anggaran Israel hampir tiga kali lipat. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Bagi Israel, perang melawan Hamas di Gaza, Palestina, diperkirakan bakal menelan biaya hingga 50 miliar Shekel (Rp 213 triliun) pada tahun 2024 nanti. Besarnya anggaran ini mengakibatkan defisit anggaran hampir tiga kali lipat bagi keuangan Israel.

Menurut Wakil Komisaris Anggaran Kementerian Keuangan Israel Itai Temkin, perang di Gaza diproyeksikan berlangsung hingga Februari 2024, di kala anggaran negara makin menipis. Hal itu disampaikan Temkin saat memberi pengarahan kepada anggota parlemen.

Temkin menjelaskan bahwa 50 miliar Shekel dialokasikan untuk biaya perang. Sebesar 30 miliar Shekel akan digunakan untuk keamanan, dan 20 miliar Shekel untuk biaya sipil. Biaya tersebut akan meningkatkan total belanja pertahanan lebih dari 48 miliar shekel, melebihi jumlah yang sudah dialokasikan.

Total belanja anggaran pada tahun 2024, kata Temkin, bakal meningkat menjadi 562,1 miliar Shekel dari rencana 513,7 miliar, dan menyebabkan defisit anggaran sebesar 5,9% dari produk domestik bruto, naik dari target 2,25%.

Ia melanjutkan, dengan defisit yang diperkirakan bakal melebar sebesar 75 miliar Shekel menjadi 114 miliar Shekel pada tahun depan, Temkin mengatakan mereka perlu memangkas pengeluaran lain atau peningkatan pendapatan.

BACA JUGA :  Gara-Gara Angka Permintaan dari Luar Negeri Menyusut, Enam Juta Ton CPO Menumpuk

“Ada kemungkinan bahwa di akhir tahun ini kami harus memperbaruinya seiring dengan perang yang terus berlanjut,” tutur Temkin, ldikutip dari Reuters, Selasa (26/12/2023).

Sekedar informasi, bulan ini Parlemen Israel menyetujui anggaran perang khusus tahun 2023 sebesar hampir 30 miliar Shekel untuk memberikan kompensasi kepada mereka yang terkena serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober lalu.

Ketua Komite Keuangan Israel Moshe Gafni menentang kenaikan pajak penghasilan, tetapi mendukung pajak atas kelebihan keuntungan bank dan langkah-langkah lain demi mendorong pertumbuhan ekonomi Israel.

Sementara itu, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengaku akan berupaya menghindari peningkatan beban keuangan warga selama perang. Selain itu, Smotrich juga menegaskan bahwa prioritas utamanya pada tahun 2024 adalah membantu para tentara cadangan dan keluarga mereka.

“Mereka meninggalkan segalanya dan mempertaruhkan hidup mereka demi kita semua dan kita harus melakukan segalanya untuk memberi imbalan kepada mereka dengan cara terbaik,” ungkap Smotrich.

Smotrich menambahkan, Kementerian Keuangan dan Pertahanan saat ini juga sedang mengerjakan rencana yang sangat besar untuk kepentingan pasukan cadangan dan keluarga mereka. Tercatat, sampai saat ini, sudah ada sekitar 350.000 warga Israel yang terpanggil menjadi cadangan sejak dimulainya perang.

BACA JUGA :  Roy Suryo Resmi Jadi Tersangka di Kasus Meme Stupa Candi Borobudur

Sementara di sektor ekonomi, pihak di kementerian yang bersangkutan menuturkan bahwa kontraksi ekonomi pada kuartal keempat diperkirakan sebesar 19% secara tahunan dibandingkan kuartal ketiga yang mengalami pertumbuhan sebesar 2,5%.

Sedangkan untuk keseluruhan tahun 2023, mereka memproyeksikan pertumbuhan sebesar 2% atau pertumbuhan per kapita yang datar, dan pertumbuhan 1,6% pada tahun 2024. Mereka memperkirakan tingkat inflasi tahunan akan berakhir pada tahun ini sebesar 3,1% dan turun menjadi 2,6% pada tahun depan. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini