Geger! Jurnalis Terkenal Asal Rusia Prediksi Perang Dunia III Bakal Pecah di Timur Tengah

0
30
Margarita Simonyan, jurnalis terkenal asal Rusia yang disebut-sebut sebagai agen propaganda Kremlin, menyatakan bahwa Perang Dunia III akan segera pecah di Timur Tengah. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Beberapa waktu lalu, jurnalis terkenal asal Rusia yang merupakan pemimpin redaksi saluran TV Russia Today dan kantor berita Sputnik, Margarita Simonyan, memberi pernyataan kontroversial. Ia menyebut perang dunia 3 (PD 3) bakal segera pecah di Timur Tengah. Hal itu disampaikan Simonyan melalui serangkaian postingan di media sosial X, Selasa (16/1/2024).

Dikutip dari Newsweek.com (17/1/2024), Simonyan mengaitkannya dengan acara pemilihan presiden (pilpres) di Amerika Serikat. “Apakah perang dunia akan pecah sekarang atau nanti, tergantung pada apakah Washington yakin bahwa perang tersebut akan berguna saat ini, sebelum pemilu, atau sebalikny,a” tulis perempuan itu, dikutip Rabu (17/1/2024).

“Perang dunia pasti akan dimulai. Dan dengan kemungkinan yang hampir sempurna-tepatnya di Timur Tengah,” ia menambahkan.

Pernyataan yang disampaikan Simonyan tadi merupakan cerminan eskalasi yang terjadi di wilayah itu, dimulai dari perang Israel ke Gaza sejak Oktober 2023 yang membuat proksi Iran terseret sebagai bentuk “solidaritas” terhadap Hamas.

Seperti diketahui bersama, Hizbullah di Lebanon dan sejumlah milisi di Suriah turut menyerang Israel yang dibalas serangan Tel Aviv. Di sisi lain, milisi Houthi di Yaman menggempur kapal-kapal di Laut Merah yang dianggap terkait Israel. Amerika Serikat pun masuk ke wilayah itu dengan Operation Guardian of Prosperity.

Bersama Inggris, awal pekan lalu, Israel melakukan serangan udara ke kota-kota Yaman demi membalas serangan kapal-kapal Houthi.

Meski demikian, hal tersebut tak menghentikan Houthi. Bahkan Houthi dikabarkan menembak kapal Gibraltar Eagle yang berbendera Kepulauan Marshall, dan sebuah kapal Yunani, Zografia, berbendera Malta beberapa hari lalu. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Amerika Serikat pada Rabu dini hari dengan serangan baru ke Yaman.

BACA JUGA :  Pengusaha Bersiap Sesuaikan Tarif Transportasi dan Logistik Imbas Kenaikan Harga BBM

Di sisi lain, Iran juga menambah ketegangan di Timur Tengah dengan menembakkan rudal-rudalnya ke Pakistan. Hal itu terjadi pada Selasa waktu setempat, saat Teheran menargetkan dua pangkalan kelompok Jaish al Adl, kelompok Suni.

Terkait aksinya tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran belum memberi pernyataan. Tapi, serangan terjadi setelah hari Senin lalu pasukan elit Garda Revolusi Iran (IRGC) menyerang sasaran yang disebut “markas mata-mata Israel” di Irak dan markas “teroris termasuk ISIS” di Suriah dengan rudal.

Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah akhirnya memaksa para pengamat memberi analisisnya. Salah satunya yakni Presiden Pusat Studi Timur Tengah dan Dosen Tamu Universitas HSE (Moskow), Rusia, Murad Sadygzade.

Sadygzade menulis bagaimana “gerbang neraka” bisa saja terbuka karena sejumlah konflik yang kini terus mengguncang wilayah itu. Ketegangan Amerika Serikat dengan Houthi bisa menjadi pencetus yang dominan. “Sebelum operasi di Yaman dimulai, sejumlah peserta mendiskusikan dampak yang mungkin terjadi,” tulis Sadygzade.

“Arab Saudi, berdasarkan pengalaman pahit keterlibatannya dalam perang saudara di Yaman, memperingatkan agar tidak melakukan tindakan seperti itu karena invasi hanya akan memperburuk situasi,” tulisnya lagi.

BACA JUGA :  Tuntutan Belum Siap, Sidang Kasus Kebakaran Lapas Tangerang Ditunda Lagi

Ia juga menyebut Riyadh bersama dengan Abu Dhabi dan Doha, yang menyediakan wilayah udara mereka untuk pesawat AS dan Inggris untuk serangan pada 12 Januari, khawatir bahwa Houthi mungkin mulai menyerang pangkalan dan depot minyak Barat di wilayah mereka.

Menurut Sadygzade, kekhawatiran monarki di Teluk bukannya tidak berdasar. Pasalnya, hal itu telah terjadi sebelumnya. “Konflik tersebut memang dapat meluas dan mengancam pergerakan kapal tanker minyak dan gas di Teluk Persia, yang merupakan jalur pengangkutan lebih dari 30% ekspor hidrokarbon dunia,” tulis Sadygzade.

Lebih lanjut, Sadygzade menjelaskan bahwa
Perkembangan seperti itu akan menyebabkan resesi global dan memukul perekonomian negara-negara Teluk dan sebagian besar dunia.

“Tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa serangan yang dipimpin AS terhadap Houthi saja akan memicu konflik regional berskala besar di Timur Tengah, namun kelanjutan dari insiden tersebut dapat membuka ‘gerbang neraka’ dan mengarah pada keterlibatan yang lebih intens dari ‘poros perlawanan’ di berbagai penjuru kawasan dalam perang melawan Israel dan Barat,” paparnya.

Sebenarnya, menurutnya Sadygzade ada satu jalan yang harus dilakukan agar ‘gerbang neraka’ itu tertutup dan tak menjadi fakta baru bumi. Solusinya adalah dengan mengakhiri konflik di Gaza.

Di sisi lain, Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyatakan bahwa pengiriman gas alam cair (LNG) akan terpengaruh ketegangan di Laut Merah.

Ia memperingatkan bahwa serangan terhadap Yaman berisiko memperburuk krisis. “LNG sama seperti pengiriman pedagang lainnya, akan terkena dampaknya,” tutut Al Thani kepada Forum, merujuk pada konflik dengan Houthi.

BACA JUGA :  Jokowi: Usulan Luhut Soal Perwira TNI Bekerja di Kementerian & Lembaga Belum Mendesak

Tercatat, seperti yang dilansir Bloomberg, pada Senin lalu, setidaknya lima kapal LNG yang dioperasikan oleh Qatar telah berhenti dalam perjalanan ke Laut Merah. Raksasa Inggris, Shell, sebelumnya telah tanpa batas waktu menangguhkan semua pengiriman melalui Laut Merah karena ancaman Houthi, sebagaimana dimuat Wall Street.

Disebutkan pula bahwa keadaan saat ini bisa menimbulkan risiko serius terhadap aliran minyak, misalnya harga dapat berubah cepat apabila pasokan Timur Tengah terganggu.

“Ini adalah situasi yang sangat serius dan tampaknya semakin buruk,” ungkap CEO Chevron, Michael Wirth mengatakan kepada CNBC International di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, dikutip Rabu (17/1/2024) “Begitu banyak aliran minyak dunia melalui wilayah tersebut yang harus dihentikan,” ia menambahkan.

Sementara itu, analis pasar minyak dan geopolitik mengatakan risiko terbesar terhadap pasokan energi akan terjadi jika ketegangan di Timur Tengah berubah menjadi konflik regional, terutama jika ini mengganggu aliran minyak mentah yang keluar dari Selat Hormuz.

Tercatat, sekitar 7 juta barel minyak mentah dan produknya transit di Laut Merah setiap hari. Di Selat Hormuz, ada 18 juta barel minyak dan gas yang transit. Tak berlebihan bila Goldman Sachs memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan di Selat Hormuz dapat melipatgandakan harga minyak. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini