Persoalkan Data Mahfud dan Cak Imin, Menteri Pertanian: Itu Bisa Mengakibatkan Disinformasi

1
48
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengkritik pernyataan cawapres Mahfud MD tentang jumlah petani yang semakin sedikit tapi subsidi pupuk makin besar. Kata Amran, justru tema besar pembangunan pertanian Indonesia tahun 2024 adalah transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Baru-baru ini, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyoroti data-data yang dipaparkan selama Debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang digelar pada Minggu malam (21/1/2024).

Menurut Amran, ada yang perlu diluruskan terhadap data-data dan pernyataan dalam debat yang membahas tema spesifik pembangunan berkelanjutan, sumber daya alam, lingkungan hidup, energi, pangan, agraria, serta masyarakat adat dan desa itu.

“Kami menyayangkan beberapa data tidak dikroscek secara detil yang kami khawatirkan bisa menyebabkan disinformasi di masyarakat,” ungkap Mentan Amran dalam keterangan tertulis, Senin (22/1/2024).

Selain itu, Amran juga mengkritik pernyataan cawapres Mahfud MD soal jumlah petani yang semakin sedikit tapi subsidi pupuk makin besar. Sebab, kata Amran, tema besar pembangunan pertanian Indonesia tahun 2024 adalah transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern.

Transformasi yang dimaksud tadi, kata Amran, bertujuan agar seluruh proses aktivitas pertanian menggunakan alat mesin pertanian modern. Misalnya penggunaan rice transplanter, combine harvester, Rice Milling Unit (RMU), dan lain-lain sebagainya.

“Gagasan besarnya bertujuan menekan biaya produksi 50-60%, meningkatkan produktifitas 20-30%, planting index 1-2, peningkatan mutu, mengurangi looses, dan petani mampu bertransformasi ke sektor pertanian lainnya seperti pembibitan, perbengkelan, RMU dan dryer,” papar Amran.

BACA JUGA :  Hindari Perpecahan di Internal PDIP, Megawati Bakal Kembali Maju Nyapres?

Bukan itu saja. Amran juga menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, nilai dan volume subsidi pupuk menurun. Hal itu, kata Amran, adalah akibat dari penurunan jumlah nilai subsidi dan kenaikan harga bahan baku pupuk.

Tercatat, sejak tahun 2019, tren alokasi subsidi pupuk Indonesia menurun dari Rp 34,1 triliun menjadi Rp 31,1 triliun pada 2020, dan terus menurun hingga Rp 25,3 triliun pada tahun 2023. “Juga, dari jumlah volume yang diberikan rata-rata sekitar 9 juta ton hingga hanya mampu 6,1 juta ton pada tahun 2023. Terkini kemampuan subsidi pemerintah hanya 4,7 juta ton (2024),” ujar Amran.

Amran juga menegaskan bahwa menurunnya jumlah alokasi dipicu harga bahan baku yang semakin mahal, yakni Harga DAP (Diamonium Fosfat) mengalami kenaikan sebesar 76,95 persen, sedangkan harga pupuk urea naik hingga sebesar 235,85 persen.

Lalu, terkait penurunan jumlah petani yang juga disorot cawapres Cak Imin, kata Amran, juga dinilai tak tepat. “Data Sensus Pertanian 2023 yang menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) mampu meningkat 8,74%,” tutur Amran.

BACA JUGA :  Akhirnya Golkar Surabaya Perkenalkan Airlangga dan Sarmuji Sebagai Capres dan Cagub Jatim

Amran lalu menjelaskan bahwa meski ada penurunan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) sebesar 7,45%, hal itu lebih dikarenakan usaha pertanian makin efisien karena meningkatnya penggunaan alat dan mesin pertanian yang menekan jumlah tenaga kerja.

Persentase tersebut, bagi Amran, menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi pertanian tradisional telahmenjadi pertanian modern. Penggunaan mekanisasi berhasil membuat efisiensi waktu pengolahan lahan hingga 97,4%.

“Sebagai contoh, dulu bertanam butuh 20 orang untuk 1 hektar, kini cukup satu orang selama 5 jam. Begitu pula panen dengan combine harvester cukup 2 orang per hektar selama 4 jam. Ini sangat efisien,” ujar Amran.

Dia menyebut, level mekanisasi pertanian Indonesia terus naik dimana pada tahun 2015 yang lalu hanya 0,5 Horse Power (HP) per hektar, Tahun 2018, level mekanisasi pertanian Indonesia meningkat menjadi 1,68 HP per hektare (ha)  dan terus naik tahun 2021 mencapai 2,1 HP dan diprediksi tahun ini menjadi sekitar 3,5HP/ha.

“Data BPS dalam Sensus Pertanian 2023 bahwa Jumlah Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (UPB) meningkat 35,54%. Selain itu jumlah petani milenial yang berumur 19-39 tahun meningkat menjadi 6,183,009 orang atau sekitar 21,93% dari total petani Indonesia,” ujarnya.

BACA JUGA :  Agar Sukses di Pemilu 2024, Kaesang Sambangi Markas Bara JP untuk Minta Dukung PSI

“Jumlah petani milenial saat ini 16,78 juta orang menurut data BPS terkini, dan terus akan bertambah. pemerintah terus mendorong regenerasi petani dan terlihat berbagai program kita memberi dampak positif,” tutur Amran. (ARH)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini