Gawat! Pasca Serangan Drone di Tower 22, Negosiasi Israel-Hamas Terancam Gagal dan AS-Iran di Ambang Perang?

0
19
Serangan drone terhadap Tower 22 pada Minggu (28/1/2024) oleh militan yang diduga didukung oleh Iran adalah serangan mematikan pertama terhadap pasukan AS sejak perang Israel-Hamas meletus pada Oktober 2023 lalu. Serangan tersebut juga menandai peningkatan besar ketegangan yang melanda Timur Tengah. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat, Tower 22, di Yordania berbuntut panjang. Setelah Negeri Paman Sam menuduh Iran di balik serangan itu, kini negosiasi antara Israel dengan Hamas pun terancam berantakan.

Seperti yang dilansir Reuters, AS menyatakan bakal mengambil “semua tindakan yang diperlukan” untuk membela pasukannya setelah serangan pesawat tak berawak menewaskan tiga tentara Amerika di Yordania.

Perlu diketahui, serangan pada Minggu (28/1/2024) oleh militan yang diduga didukung oleh Iran adalah serangan mematikan pertama terhadap pasukan AS sejak perang Israel-Hamas meletus pada Oktober 2023 lalu dan menandai peningkatan besar ketegangan yang melanda Timur Tengah.

Menurut juru bicara Pentagon John Kirby, Amerika Serikat tidak menginginkan perang yang lebih luas dengan Iran atau di wilayah tersebut. “Tapi kami harus melakukan apa yang harus dilakukan.” tuturnya, Senin (29/2/2024)

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah memerintahkan serangan balasan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran, tetapi sejauh ini tidak menyerang Iran secara langsung. “Jangan ragu, kami akan meminta pertanggungjawaban semua pihak pada waktu dan cara yang kami pilih,” ujar Biden, Minggu (30/2/2024)

BACA JUGA :  Mengaku Tak Masalah Bila Timnas Israel Berlaga di Indonesia, Ketum PBNU: Hadir-Tidaknya Mereka Tidak Pengaruhi Kondisi Palestina

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin menyebutkan bahwa pihaknya tidak akan menolerir serangan terhadap pasukan AS. Pihaknya pun akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk membela AS dan pasukannya.

Di sisi yang lain, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al Thani berharap pembalasan AS terhadap Iran tidak akan melemahkan kemajuan menuju kesepakatan pembebasan sandera baru dalam perundingan akhir pekan lalu.

Sebagai informasi, pada hari Minggu lalu (28/2/2024), Direktur CIA William Burns bertemu dengan PM Qatar Sheikh Mohammed, Kepala Dinas Intelijen Mossad Israel, serta Kepala Intelijen Mesir di Paris untuk melakukan perundingan.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan perundingan di Paris tersebut memunculkan harapan bahwa proses perundingan yang dimediasi Qatar dapat dilanjutkan. Sebelum gagal, mekanisme tersebut menghasilkan perjanjian gencatan senjata selama seminggu pada November 2023 ketika Hamas membebaskan sekitar 100 sandera.

“Kerangka kerja untuk kemungkinan kesepakatan kedua yang dikembangkan di Paris adalah kerangka yang kuat dan menarik yang menawarkan harapan bahwa kita dapat kembali ke proses ini,” tuturnya pada konferensi pers dengan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

BACA JUGA :  Kemarau Panjang dan Gelombang Panas Hantam China, Sungai Yangtze Mengering

Para ahli mengatakan meski Iran khawatir akan terseret ke dalam perang Israel-Hamas, Iran mungkin tidak akan memegang kendali penuh jika milisi yang didukungnya di wilayah tersebut melakukan intervensi secara independen.

“Apa yang menghubungkan semua kelompok ini dengan Iran adalah kebijakan anti-Israel mereka,” kata Sima Shine, Kepala Program Iran di Institut Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv, seperti yang dilansir CNN International (30/2/2024).

Ia mencatat bahwa meskipun Iran memiliki tingkat pengaruh yang berbeda-beda terhadap kelompok-kelompok tersebut, tapi negara itu tidak mendikte semua tindakan mereka. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini