Kereta Cepat Jakarta-Bandung Banyak Dikritik, Luhut: Sekarang Semua Orang Justru Menikmati

0
18
Lantaran sepinya penumpang, PT Kereta Cepat Indonesia China (PT KCIC) menerapkan dynamic pricing atau tarif dinamis untuk kelas premium economy Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Tarifnya kini dijual lebih murah, dari sebelumnya Rp 200 ribu menjadi Rp 150 ribu per Sabtu, 3 Februari 2024. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Pada awal tahun 2024 Kereta Cepat Jakarta-Bandung disebut sepi penumpang. Hal itu dibenarkan oleh Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), Dwiyana Slamet Riyadi. Ia mengatakan, rata-rata jumlah penumpang harian Kereta Cepat Jakarta-Bandung pada awal tahun ini turun ke kisaran 15.000 penumpang, dari 21.000 penumpang pada pengujung tahun 2023. Tak mengherankan bila kepantasan alat transportasi itu kembali disorot dan menuai kritikan.

Tak mau berdiam diri, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memberikan pesan ‘menohok’ yang ditujukan kepada para pengkritik Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Menurut Luhut, awalnya memang banyak pihak mengkritik proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Tapi, kata Luhut, saat ini Kereta Cepat tersebut justru banyak dinikmati oleh masyarakat luas.

“Kalau kita lihat infrastruktur banyak yang mengkritik mengenai Kereta cepat Jakarta-Bandung tidak jalan, sekarang semua orang menikmati,” ungkap Luhut dalam akun instagram pribadinya, Sabtu (3/2/2024).

Meski demikian, Luhut mengaku proyek Kereta Cepat masih memiliki kekurangan dan perlu perbaikan. Pasalnya, menggarap proyek jumbo tidak semudah membalikkan telapak tangan. “Tentu masih ada kurang di sana sini tidak mungkin itu seperti membalik tangan sendiri,” ujarnya.

BACA JUGA :  Demi Tercapainya Pemerataan, Dirjen Migas: Harga Gas Murah untuk Industri Bakal Dievaluasi

Seperti diketahui bersama, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) memang penuh drama. Hal itu dimulai pada awal tahun 2015, saat proyek KCJB diambil alih oleh China dari Jepang.

Saat itu, China dipilih Pemerintah RI karena dianggap mampu membangun proyek KCJB dengan biaya yang murah. Awalnya, China merinci dana sebesar US$ 5,13 miliar atau sekitar Rp 79,6 triliun (asumsi kurs saat ini Rp 15.516/US$) pada proposal awal, tetapi perlahan berubah menjadi US$ 6,071 miliar dan melonjak lagi jadi US$ 7,5 miliar atau setara Rp 116,37 triliun. (ARH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini