RADAR TANGSEL RATAS – Pelajar dan pekerja migran Indonesia (PMI) mempertanyakan sulitnya mendapatkan entry permit atau izin masuk ke Malaysia, khususnya setelah Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) atau lockdown di negara tersebut dicabut.
Hal tersebut mereka sampaikan dalam sesi webinar Sosialisasi Keimigrasian seri II yang digelar Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang secara hibrida dari Kedah, Malaysia, Minggu (25/9).
Selain itu, mereka banyak menanyakan persoalan prosedur pernikahan dengan warga negara asing, serta isu-isu ketenagakerjaan terkait hak dan kewajiban majikan atau perusahaan tempat mereka bekerja.
Menurut Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Penang, Bambang Suharto, bagi masyarakat Indonesia, Malaysia merupakan salah satu negara tujuan favorit bagi pekerja migran maupun pelajar Indonesia.
“Dalam dasawarsa terakhir, Malaysia juga menjadi tujuan favorit untuk wisata medis atau medical tourism,” kata Bambang melalui keterangan tertulisnya, Minggu (25/9).
Khusus terkait pekerja migran dan pelajar Indonesia, Bambang mengatakan isu-isu keimigrasian yang dinamis selama masa pandemi Covid-19 memang memberikan tantangan tersendiri.
“Bagi pekerja migran dan pelajar, situasi pandemi tidak memberikan keleluasaan melakukan perlintasan dua negara. Selama masa PKP banyak pekerja migran dan pelajar Indonesia tidak dapat masuk kembali ke Malaysia untuk beraktivitas,” ungkap Bambang.
Ia menjelaskan, jumlah sektor pekerjaan dan sektor pendidikan memang dihentikan secara langsung selama masa PKP, karena tidak banyak aktivitas yang dapat dilakukan bila mereka berada di Malaysia saat itu.
Dinamika isu-isu keimigrasian dan kebijakan di Malaysia, kata Bambang, menjadi informasi berharga bagi kelompok pekerja migran dan pelajar, serta bagi jajarannya di KJRP Penang.
“Kami juga terus memantau perkembangan isu dan kebijakan keimigrasian tersebut, serta protokol kesehatan yang diberlakukan untuk kemudian disampaikan kepada masyarakat Indonesia di wilayah kerja kami,” tutur Bambang.
Saat pandemi mulai mereda dan perubahan status menjadi endemi, Bambang mengatakan jajarannya perlu memperoleh informasi terbaru mengenai kebijakan keimigrasian di Malaysia.
“Situasi Covid-19 mempengaruhi semua aspek kehidupan kita. Tidak dapat dipungkiri, kita stres dan beban mental bagi kita dalam menghadapinya,” kata Bambang.
Ia juga melihat terbatasnya pekerjaan bagi PMI dan kuliah daring yang harus dijalani pelajar memang memberikan tantangan tersendiri.
“Dalam kesempatan ini kami undang pakar pendidikan dari UGM yang punya pengalaman menempuh pendidikan di luar negeri,” katanya.
KJRI Penang telah melaksanakan dua seri kegiatan webinar yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta luring dan 150 peserta daring dari kelompok pekerja migran dan pelajar Indonesia serta pemerhati keimigrasian di Indonesia.
(Pelaksanaan webinar Sosialisasi Keimigrasian yang dilaksanakan KJRI Penang secara hibrid diikuti dari Kuala Lumpur, Minggu (25/9). (BD)