Maraknya Dukun Berkedok Agama, Pengasuh Ponpes Tegalrejo, Gus Yusuf, Beri Peringatan Keras

0
42
Praktik perdukunan sebenarnya bukan barang baru di Indonesia. Sebelum perseteruan antara Pesulap Merah dengan Gus Samsudin, sudah banyak konten-konten di media sosial yang menonjolkan kesaktian dukun. (foto: istimewa)

RADAR TANGSEL RATAS – Akhir-akhir ini topik dukun berkedok agama makin mengemuka setelah viralnya perseteruan antara Pesulap Merah vs Gus Samsudin, alias Syamsudin Jaddab. Bahkan, kasus yang sudah dilaporkan ke kepolisian itu akhirnya melebar ke mana-mana setelah masing-masing pendukungnya bersuara.

Praktik perdukunan sebenarnya bukan barang baru di Indonesia. Sebelum perseteruan antara Pesulap Merah dengan Gus Samsudin, sudah banyak konten-konten di media sosial yang menonjolkan kesaktian dukun.

Dalam praktiknya, seolah-olah si dukun berdoa dengan cara-cara Islami. Di sisi lain, ada penggunaan-penggunaan benda yang tak ada tuntunan syariatnya. Dampak pengobatan ala-ala itu pun seringkali di luar nalar.

Ada pula dukun berkedok ulama yang dengan beberapa cara mampu menarik paku dan benda tajam lain dari tubuh pasien yang dianggap kena santet.

Maraknya dukun berkedok kiai itu memicu keprihatinan kalangan pesantren. Salah satunya, pengasuh pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, KH Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf.

Melalui video yang ditayangkan di akun medsosnya, dia mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah tergiur oleh praktik-praktik pengobatan alternatif berkedok agama.

BACA JUGA :  Komnas HAM Tampilkan Video Detik-Detik Kematian Brigadir J dari CCTV Rumah Ferdy Sambo

Menurut Gus Yusuf, masyarakat harus berhati-hati agar tidak terjerumus pada kesyirikan saat melihat prosesi pengobatan ala dukun. Masyarakat pun harus paham apakah pengobatan yang dipraktikkan dalam pengobatan tersebut sesuai dengan medis dan syariat agama Islam atau tidak.

Gus Yusuf juga menjelaskan bahwa setiap penyakit yang diturunkan Allah SWT ke muka bumi ini pasti memiliki obat sebagai wasilah kesembuhan. Obat yang diturunkan oleh Allah SWT itu datang melalui berbagai cara.

Di antaranya melalui teknis medis (kedokteran), melalui obat alternatif dan herbal, dan cara-cara lainnya. “Semua itu diperbolehkan dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat,” tuturnya.

Meskipun seorang muslim menyadari bahwa berobat dengan cara-cara tersebut tidaklah diperbolehkan, tapi masih saja ada orang-orang yang meyakini hal-hal lain selain Allah SWT yang bisa menyembuhkannya. Misalnya mempercayai makhluk lain atau obat yang digunakan sebagai satu-satunya cara yang menjadikannya sembuh dari penyakit.

“Itu jelas bertentangan dengan syariat. Karena itu menafikan Allah yang memberikan kesembuhan,” katanya, dikutip NU Online.

BACA JUGA :  Takut Diserang PMK, Australia Minta Warga Negaranya Buang Sepatu Sepulang dari Bali?

Gus Yusuf juga mengingatkan bahwa berobat dari penyakit adalah sebuah ikhtiar dalam mencari kesembuhan bukan malah mencari masalah baru. Ia mencontohkan dengan kondisi orang yang sakit kemudian berobat ke seseorang yang dianggap bisa menyembuhkan, malah dibebani dengan hal-hal lain seperti sakitnya karena dibuat orang atau musuh.

“Akhirnya, sakitnya nggak sembuh-sembuh, tambah lagi sakit secara pikiran (psikologis). Walhasim akan muncul suudzan-suudzan (buruk sangka),” tutur Gus Yusuf.

Karena itu, jika menemukan praktik dan kasus di mana orang yang dimintai bantuan berobat malah membebani pasien secara psikis, maka lebih baik untuk dihindari. (BD

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini