RATAS– Demensia kerap identik dengan pikun pada kelompok lanjut usia. Padahal, gangguan kognitif ini juga bisa memunculkan sinyal awal dari hal yang paling dekat dengan keseharian, yakni kebiasaan makan.
Pakar menilai perubahan menu, selera, hingga jadwal makan perlu diwaspadai, terutama bagi keluarga yang tinggal bersama orang tua. Gejala tersebut bisa menjadi alarm sebelum kemampuan daya ingat benar-benar menurun.
Empat Sinyal dari Piring Makan yang Wajib Diwaspadai
Ahli neurologi dari Mind/Brain Institute Johns Hopkins University, Majid Fotuhi, mengungkapkan keluhan paling sering dari keluarga pasien adalah perubahan pola makan yang tidak biasa. Dilansir dari HuffPost, ia menyebut pernyataan itu sangat umum ditemui.
“Sebagai seorang ahli neurologi yang telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari kesehatan otak, salah satu pernyataan paling umum dari keluarga pengidap demensia adalah ‘ibu saya mulai makan dengan aneh’,” ujar Fotuhi.
Ada empat kebiasaan yang patut diperhatikan. Pertama, masakan menjadi jauh lebih sederhana. Jika sebelumnya gemar meracik hidangan kompleks, tiba-tiba hanya memasak yang praktis, hal itu bisa menandakan penurunan kemampuan perencanaan.
Ahli neurologi dari New York University, Joel Salinas, menjelaskan hidangan rumit butuh perencanaan, belanja, dan eksekusi yang kini terganggu akibat demensia.
Kedua, kehilangan minat terhadap makanan. Perubahan di otak dapat menurunkan indra penciuman sehingga makanan terasa hambar dan tidak menarik lagi.
Lupa Jadwal Makan Hingga Ngidam Manis Berlebihan
Ketiga, lupa waktu makan. Demensia memengaruhi memori sekaligus sinyal lapar dan kenyang dalam tubuh. Kondisi ini membuat seseorang bisa makan terlalu sedikit atau justru berlebihan.
“Demensia mempersulit penafsiran sinyal internal tubuh untuk rasa lapar dan kenyang,” ujar ahli neurologi lainnya, Adam Mednick.
“Hasilnya bisa ke mana saja, menyebabkan makan terlalu sedikit atau dalam beberapa kasus, makan berlebihan,” imbuhnya.
Keempat, mengidam makanan manis secara berlebihan. Mednick menyebut kecenderungan ini paling sering dilaporkan, terutama pada demensia frontotemporal (FTD) yang merusak lobus frontal dan temporal.
“Lobus frontal biasanya membantu kita mengatur impuls dan pilihan makanan. Saat rusak, pengaturan itu melemah, dan sering kali muncul ketertarikan yang kuat terhadap makanan manis,” jelasnya.
Meski demikian, Fotuhi mengingatkan perubahan tersebut tidak bisa ditebak sendiri. Pemeriksaan medis tetap diperlukan.
“Inilah mengapa perubahan perilaku makan dan berkelanjutan memerlukan evaluasi medis yang tepat, bukan sekadar tebakan,” pungkas Fotuhi.
Jika hanya terjadi perubahan makan tanpa disertai penurunan daya ingat, kemampuan menilai, dan fungsi harian, masyarakat diminta tidak panik berlebihan. Namun bila dibarengi gejala lain, evaluasi segera sangat dianjurkan.