Home » GAYA HIDUP » KESEHATAN » Sering Lupa Waktu Makan? Hati-Hati Itu Tanda Awal Kepikunan Mengintai

Sering Lupa Waktu Makan? Hati-Hati Itu Tanda Awal Kepikunan Mengintai

Minggu, 25 Oktober 2026, Pukul 15:31 WIB
Pasien Stroke Perlu Jaga Pola Makan dan Cukupi Air Putih Sesuai Anjuran Medis RATAS.id — Pasien stroke perlu disiplin menjaga pola hidup selama menjalani proses pemulihan. Selain mengikuti pengobatan dan pemeriksaan rutin, perhatian terhadap pola makan dan kecukupan cairan menjadi bagian yang tidak kalah penting. Menjaga pola makan dapat membantu mendukung kondisi kesehatan sekaligus mengendalikan sejumlah faktor risiko yang berkaitan dengan stroke. Pasien dan keluarga perlu memperhatikan jenis, jumlah, serta jadwal makan sesuai kondisi masing-masing dan anjuran tenaga kesehatan. Asupan cairan juga perlu diperhatikan. Air putih dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh, tetapi jumlah yang dibutuhkan setiap pasien tidak selalu sama. Pada kondisi tertentu, pasien stroke justru dapat memiliki pembatasan cairan atau mengalami gangguan menelan. Karena itu, konsumsi air tidak sebaiknya ditentukan secara sembarangan tanpa mempertimbangkan kondisi medis pasien. Keluarga juga perlu memperhatikan kemampuan pasien saat makan dan minum. Jika pasien mengalami kesulitan menelan, konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan bentuk makanan dan minuman yang sesuai serta mengurangi risiko komplikasi. Proses pemulihan stroke juga tidak hanya bergantung pada obat. Kepatuhan menjalani pengobatan, pola makan yang sesuai, aktivitas fisik berdasarkan kemampuan, serta pemeriksaan dan konsultasi secara berkala merupakan bagian dari perawatan. Dengan demikian, pasien stroke dan keluarga perlu membangun kebiasaan yang konsisten selama masa pemulihan. Menjaga pola makan, memenuhi kebutuhan cairan sesuai anjuran medis, serta disiplin menjalani perawatan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi kesehatan pasien. Pesan utamanya adalah berani melakukan perubahan pola hidup dan tetap mengikuti arahan tenaga kesehatan. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda sehingga pola makan, aktivitas, maupun kebutuhan cairannya perlu disesuaikan secara individual.

RATAS– Demensia kerap identik dengan pikun pada kelompok lanjut usia. Padahal, gangguan kognitif ini juga bisa memunculkan sinyal awal dari hal yang paling dekat dengan keseharian, yakni kebiasaan makan.

Pakar menilai perubahan menu, selera, hingga jadwal makan perlu diwaspadai, terutama bagi keluarga yang tinggal bersama orang tua. Gejala tersebut bisa menjadi alarm sebelum kemampuan daya ingat benar-benar menurun.

Empat Sinyal dari Piring Makan yang Wajib Diwaspadai

Ahli neurologi dari Mind/Brain Institute Johns Hopkins University, Majid Fotuhi, mengungkapkan keluhan paling sering dari keluarga pasien adalah perubahan pola makan yang tidak biasa. Dilansir dari HuffPost, ia menyebut pernyataan itu sangat umum ditemui.

“Sebagai seorang ahli neurologi yang telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari kesehatan otak, salah satu pernyataan paling umum dari keluarga pengidap demensia adalah ‘ibu saya mulai makan dengan aneh’,” ujar Fotuhi.

Ada empat kebiasaan yang patut diperhatikan. Pertama, masakan menjadi jauh lebih sederhana. Jika sebelumnya gemar meracik hidangan kompleks, tiba-tiba hanya memasak yang praktis, hal itu bisa menandakan penurunan kemampuan perencanaan.

BACA JUGA :  Jarang Diketahui! Ini Khasiat Daun Ketumbar untuk Kesehatan

Ahli neurologi dari New York University, Joel Salinas, menjelaskan hidangan rumit butuh perencanaan, belanja, dan eksekusi yang kini terganggu akibat demensia.

Kedua, kehilangan minat terhadap makanan. Perubahan di otak dapat menurunkan indra penciuman sehingga makanan terasa hambar dan tidak menarik lagi.

Lupa Jadwal Makan Hingga Ngidam Manis Berlebihan

Ketiga, lupa waktu makan. Demensia memengaruhi memori sekaligus sinyal lapar dan kenyang dalam tubuh. Kondisi ini membuat seseorang bisa makan terlalu sedikit atau justru berlebihan.

“Demensia mempersulit penafsiran sinyal internal tubuh untuk rasa lapar dan kenyang,” ujar ahli neurologi lainnya, Adam Mednick.

“Hasilnya bisa ke mana saja, menyebabkan makan terlalu sedikit atau dalam beberapa kasus, makan berlebihan,” imbuhnya.

Keempat, mengidam makanan manis secara berlebihan. Mednick menyebut kecenderungan ini paling sering dilaporkan, terutama pada demensia frontotemporal (FTD) yang merusak lobus frontal dan temporal.

“Lobus frontal biasanya membantu kita mengatur impuls dan pilihan makanan. Saat rusak, pengaturan itu melemah, dan sering kali muncul ketertarikan yang kuat terhadap makanan manis,” jelasnya.

BACA JUGA :  Ya Ampun! Rudal Balistik Antarbenua Milik Korut Bakal Diuji Coba, Berbahayakah?

Meski demikian, Fotuhi mengingatkan perubahan tersebut tidak bisa ditebak sendiri. Pemeriksaan medis tetap diperlukan.

“Inilah mengapa perubahan perilaku makan dan berkelanjutan memerlukan evaluasi medis yang tepat, bukan sekadar tebakan,” pungkas Fotuhi.

Jika hanya terjadi perubahan makan tanpa disertai penurunan daya ingat, kemampuan menilai, dan fungsi harian, masyarakat diminta tidak panik berlebihan. Namun bila dibarengi gejala lain, evaluasi segera sangat dianjurkan.

Latest

Sering Lupa Waktu Makan? Hati-Hati Itu Tanda Awal Kepikunan Mengintai

RATAS– Demensia kerap identik dengan pikun pada kelompok lanjut usia. Padahal, gangguan kognitif ini juga bisa memunculkan sinyal awal dari hal yang paling dekat dengan keseharian, yakni kebiasaan...

Diet Gagal Terus? Coba Teh Pembakar Lemak Perut, Hasil Fantastis Bikin Kaget

RATAS – Banyak orang mencari minuman pendamping untuk menurunkan berat badan. Salah satu yang paling populer adalah teh, yang digadang-gadang mampu membakar lemak di area perut. Ahli gizi...

Jangan Anggap Sepele! Cepat Kenyang, Mual, Tanda Kanker Lambung Mengintai

RATAS – Keluhan pencernaan seperti perut kembung, sering bersendawa, hingga cepat kenyang kerap dianggap sepele. Padahal tanda tersebut bisa menjadi sinyal awal penyakit mematikan. Kanker...

Tulangmu Rapuh Tanpa Sadar? 4 Olahraga Ini Bikin Kokoh Baja

RATAS – Banyak orang kira tulang kuat cuma butuh susu dan suplemen. Padahal salah besar Bos! Tanpa gerak fisik yang rutin, tulang bisa keropos pelan-pelan tanpa terasa, apalagi saat usia makin...

Hadir untuk Negeri, BTN Gandeng RSUP Ngoerah Kembangkan Wisata Medis Bali

RATAS – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menjalin kerja sama strategis dengan RSUP Prof I.G.N.G. Ngoerah untuk membuka peluang pengembangan wisata medis (medical tourism) di Bali....
WhatsApp Image 2026-08-16 at 08.30.57 (1)
banner ratasid
CMS-Critic-Banner-300x600