RATAS – Kabar menggembirakan datang dari sektor pangan nasional. Pemerintah memastikan cadangan beras dalam kondisi sangat aman untuk jangka panjang, bahkan hingga pertengahan tahun depan.
Kepastian tersebut disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam forum Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Jumat (23/10). Laporan itu menyebut angka cadangan di gudang menembus level tertinggi.
Cadangan Pecah Rekor Sepanjang Sejarah
Amran memaparkan data per Oktober 2026 menunjukkan simpanan mencapai 4,56 juta ton. Capaian ini diklaim melampaui rekor-rekor sebelumnya, termasuk masa swasembada era kepemimpinan Soeharto.
“Stok kita, izin Bapak Presiden, sejak ’92 sampai dengan tahun 2026, pernah dulu mencapai 2,6 juta tahun ’84. Itu swasembada pada saat Pak Harto, kepemimpinan beliau,” papar Amran.
“Kemudian sekarang 2026 stok kita pada bulan Oktober itu 4,56 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah,” ungkapnya.
Mentan sempat menyinggung pernah ada catatan 5,37 juta ton, meski tidak dijelaskan rinci periode pencatatannya.
Hitungan Total 25 Juta Ton Hingga Juli 2027
Perhitungan pemerintah tidak hanya bertumpu pada isi gudang. Ada tambahan estimasi dari tanaman yang masih berdiri di lahan persawahan, diperkirakan menghasilkan 10 juta ton.
Kemudian komponen lain yang disebut horeka, mencakup hotel, rumah tangga, dan sebagainya, dihitung sekitar 10 juta ton. Jika dijumlahkan, total ketersediaan menyentuh 25 juta ton.
“Standing crop artinya tanaman yang ada di lapangan sekarang itu jumlah estimasi produksi 10 juta ton. Kemudian horeka, hotel, rumah tangga, dan seterusnya, itu ada 10 juta ton. Di gudang, 4,5 juta ton. Total 25 juta ton,” ujarnya.
Dengan asumsi kebutuhan nasional 2,5 juta ton setiap bulan, angka tersebut diyakini cukup untuk 10 bulan.
“Artinya apa? Kalau 25 juta ton bagi 2,5 itu 10 bulan, sampai bulan Juli tahun depan stok kita aman,” Amran menegaskan.
Kebijakan Pupuk dan HPP Dongkrak Kesejahteraan Petani
Selain soal stok, Mentan juga menyoroti perbaikan kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) disebut mengalami lonjakan signifikan akibat kebijakan strategis Presiden.
Harga pupuk diturunkan 20 persen dan dinikmati sekitar 115 juta petani. Di sisi lain, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dinaikkan sehingga berdampak langsung pada pendapatan.
“Karena kebijakan Bapak Presiden, harga pupuk turun 20 persen dinikmati 115 juta petani Indonesia. Kemudian HPP, harga gabah beras naik, sehingga sekarang NTP-nya, Nilai Tukar Petani 131, dan ini tertinggi sejak ’92 bahkan sejak merdeka,” pungkas Amran.